RSS

Jumat, 20 Agustus 2010

Menceritakan Isi Cerpen

0 komentar

Pernahkah temanmu bercerita tentang keindahan cerpen yang dibacanya? Atau setelah membaca sebuah cerpen, kamu sering menceritakan isinya. Itulah daya tarik atau kelebihan sebuah cerpen. Bagaimana cara menceritakan isi sebuah cerpen secara menarik?

1. Teknik Bercerita supaya Menarik

Dapatkah kamu bercerita tentang keindahan cerpen di depan kelas? Siapa tahu ada teman kamu yang belum pernah membaca cerpen tersebut. Atau, mungkin juga ada temanmu yang pernah membacanya. Jadi, kamu dapat saling melengkapi.

Agar dapat menceritakan isi cerpen secara lengkap dan menarik, perhatikan hal-hal berikut ini!

a. Pahamilah isi cerita cerpen dengan saksama.

b. Hafalkan dan ingat-ingat bagian-bagian yang penting.

c. Hafalkan tokoh-tokohnya.

d. Perhatikan penampilan dan gerakan tubuh.

e. Mulailah bercerita dengan gaya yang tidak dibuat-buat.

f. Perhatikan intonasi, irama, artikulasi, dan lafalnya.

g. Gunakan gerakan tubuh lain (wajah, mata, lengan) untuk mendukung cerita.

h. Ceritakan bagian pembukaan, inti, dan penutup secara urut.

i. Akhiri dengan penutup cerita yang santun.

Sekarang, cobalah kamu baca dengan saksama cerpen berikut ini, kemudian ceritakan kembali isinya secara lisan!



Burung yang Malang


Hari Minggu, Mia bangun pagi untuk bisa olahraga bersama orang tuanya. Mia membuka pintu lebar-lebar dan direntangkan kedua tangannya seraya mengambil napas dalamdalam dan membuang perlahan. “Aah… indahnya pagi ini,” seru Mia. Namun, ketika Mia membungkukkan badannya untuk melakukan sedikit peregangan, betapa kagetnya ketika melihat seekor burung kecil tergeletak lemas di lantai teras rumah dengan sayap yang terkulai penuh darah. Mia berjongkok untuk mengamati lebih dekat.

“Ooh… lengan sayapnya terluka. Darahnya cukup banyak,” gumamnya. Mia melihat burung itu masih hidup karena dada burung kecil itu naik turun lemah dan tubuhnya masih hangat. Segera diambil obat antiseptik yang biasa diletakkan Ibu di dalam kotak obat.

Gadis kecil itu kembali ke teras dengan berlari, tidak lupa membawa segulung kasa di tangan. Mia meneteskan obat antiseptik ke lengan burung itu pelan-pelan seolah takut menyakiti.

“Kau tenang saja burung cantik, ini akan sedikit sakit, tapi kau akan segera sembuh dan bisa terbang lagi bersama keluargamu,” ujarnya lirih pada burung malang itu seperti seorang dokter.

Kemudian dililitkan kasa steril sebagai perban dengan sangat hati-hati seolah-olah takut jika dia mematahkan lengan yang terluka itu. Mia teringat Ayah yang pernah membalutkan perban kasa steril seperti ini ketika dia jatuh dari sepeda. “Kau sudah siap Mia?” suara Ayah dari dalam rumah mengejutkan.

“Ya, Ayah sebentar lagi aku selesai.” “Apa yang kau lakukan Mia?” tanya Ayah penasaran dengan kesibukan buah hatinya. Mia menjelaskan apa yang dilakukan. Kata Ayah, mungkin burung itu terkena tembakan senapan angin para pemburu burung.

“Kau boleh meletakkan burung itu di kebun belakang rumah, jangan lupa jauhkan dari jangkauan si meong.” Setelah memberikan tempat yang nyaman sebagai alas tidur dan juga selimut, Mia segera menyusul orang tuanya lari pagi di lingkungan kompleks perumahan. Hati Mia senang sekali. “Aku akan melihatnya sembuh dan terbang lagi,” batin Mia bangga.

Sepulang dari berlari, Mia tak henti-hentinya menjenguk pasiennya. Sesekali paruh kecil itu disuapi dengan air dan biji beras. “Lihat Bu, Mia senang sekali merawatnya,” kata Ayah kepada Ibu. “lya. Yah, jika burung itu sembuh pasti Mia akan sangat bangga karena telah merawat dengan baik,” sahut Ibu. Dua hari berlalu, tetapi burung itu tetap berbaring lemah meskipun lukanya telah mengering. Ketika suatu pagi Mia bangun untuk melihat pasien kecilnya, betapa terkejut dia.

“Ayah…. Ibu…! teriak Mia. Ayah dan Ibu pun tergopohgopoh menghampiri Mia. “Lihat Yah! Burung ini kenapa? Sayap dan dadanya tidak lagi naik turun seperti kemarin, tetapi lukanya sudah mengering,” seru Mia seraya menunjukkan luka di balik balutan perban yang baru saja dibukanya. Ayah dengan lembut mengelus rambut putri semata wayang lalu berkata, “Mia, burung ini terluka cukup parah waktu kau menemukannya tempo hari. Dia sekarang tidak kuat lagi.”

“Mmm… maksud Ayah dia sudah mati?” pekik Mia. Air mata meleleh di pipinya yang kemerahan. “lya Mia, Ayah turut menyesal.” “Tetapi Mia kan sudah mengobati lukanya, memberi minum serta makan,” protes Mia.

“Mia sudah benar, tetapi burung ini terlalu lemah. Ini bukan salah Mia,” hibur Ibu.

“Maafkan aku burung kecil, aku tidak bisa menyelamatkanmu. Para pemburu itu sangat kejam terhadapmu. Mereka tidak menyayangimu seperti aku menyayangimu.” Mia memandangi burung itu dengan penuh iba dan penyesalan. “Tuhan tahu Mia sudah berusaha dengan sebaik-baiknya dan burung ini juga tahu. Dia pasti berterima kasih padamu jika dia bisa bicara,” lanjut Ayah.

Mia mulai tersenyum di sela tangisnya, “Kita akan menguburkannya. Ayah?”

Ayah mengangguk, “lya, Ayah akan menggali lubang di tanah pojok sana.”

Mia masih menangis, tetapi dia senang sekali bisa merawat burung yang malang itu, walaupun hasilnya tidak seperti yang dia harapkan.

Sumber: Kompas Anak, 13 Januari 2008

Untuk mengukur tingkat pemahamanmu terhadap isi cerpen, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!

1. Sebutkan para tokoh dan perwatakannya!

2. Tulis tema dan amanat cerita!

3. Menarikkah cerita di atas? Berikan alasanmu!

4. Bagaimana latar ceritanya? Berikan penjelasan secukupnya!

5. Tulislah bagian-bagian cerita! Buatlah tabel seperti di bawah ini di buku tugasmu.


Sumber :

Martanti dan Supratiwi P, 2009, Kreatif Berbahasa Indonesia 3: untuk SMP dan MTs Kelas IX, Jakarta : Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 7 – 12.


Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kamis, 19 Agustus 2010

MENULIS PUISI BERKENAAN DENGAN KEINDAHAN ALAM

0 komentar

Membaca puisi tentu sudah sering kamu lakukan. Banyak puisi di surat kabar, majalah, maupun buku-buku yang dapat kamu baca. Bagaimana dengan menulis puisi? Kali ini kamu akan diajak berlatih menulis puisi. Dalam menulis puisi, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan, yaitu
Menentukan tema

Banyak tema yang dapat kamu angkat dan tuangkan dalam bentuk puisi. Misalnya, keindahan alam, kasih sayang, maupun masalah kehidupan lain yang ada di sekitarmu.
Suasana puisi

Suatu puisi menggambarkan perasaan, pikiran, dan keinginan penulis terhadap apa yang dirasa, didengar, maupun dilihat oleh indra mereka. Pengungkapan penulisan puisi yang satu berbeda dengan yang lain. Puisi yang menyatakan kebahagian akan menggunakan bahasa yang indah, lembut, dan romantis, sementara puisi yang menyatakan ketidaksukaan atau protes diungkapkan dengan bahasa yang sinis, lugas, keras, dan sebagainya.
Mendaftar kata-kata yang dianggap cocok

Puisi diwarnai oleh ungkapan maupun kiasan. Misalnya, Tuhan, aku telah berdusta selalu dan menjauh darimu. Kata yang dicetak miring akan terdengar indah dan memiliki nilai rasa daripada kata penuh salah.
Memilih diksi

Diksi atau pilihan kata akan sangat menentukan keindahan dan kebermaknaan puisi. Kata-kata dalam puisi cenderung konotatif dan kias sehingga akan memberikan nilai rasa tertentu. Misalnya, Hidupnya yang malang selalu bermandikan (air mata, peluh, keringat). Kata yang tepat adalah air mata.

Menulis puisi

Setelah menentukan tema, suasana, dan diksi, kamu dapat menyusun puisi secara utuh. Inspirasi yang dapat membantu mengembangkan imajinasimu, misalnya mimpi, harapan, fantasi, benda, bunga, maupun alam. Kali ini, cobalah untuk menulis puisi berkaitan dengan keindahan alam. Perhatikan contoh berikut!

Laut
Amal Hamzah
Berdiri aku di tepi pantai
Memandang lepas ke tengah laut
Ombak pulang memecah berderai
Keribaan pasir rindu berpaut

Ombak datang bergulung-gulung
Balik lagi ke tengah segara
Aku takjub berdiri termangu
Beginilah rupanya permainan masa
Hatiku juga seperti dia
Bergelombang-gelombang memecah pantai
Arus suka beralih duka
Payah mendapat perasaan damai

Dikutip dari Bimbingan Apresiasi Puisi, 1974 Puisi tersebut mengambil tema keindahan laut. Hal tersebut dapat dilihat dari pemilihan judul dan hal-hal yang tergambar dalam puisi tersebut. Misalnya, ombak bergulung yang datang ke pantai. Di samping itu, kata berderai dan berpaut menambah keindahan puisi tersebut.
Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
 
Copyright © Mr.Elly Oye