RSS

Jumat, 08 September 2017

CERPEN

Sepeda Tua Tono
            “Kring...kring...kring...” terdengar bunyi bel sepeda dari arah belakang. Aku yang sedang berjalan langsung menengok ke arah belakang. “Hai Doni,” sapa pengemudi sepeda itu yang ternyata Tono sahabatku. “Hai juga Tono, aku sudah mengira bahwa itu kamu,” kataku. “Hehehe...,” tawa renyah Tono yang beranjak memarkirkan sepeda tuanya.
            Setelah memarkirkan sepedanya, kami bergegas menuju kelas kami. “Aku sangat menyayangi sepeda tua ku itu Don,” kata Tono. “Kamu sudah berkata seperti itu lebih dari 100 kali Ton,” jawabku. Ya, Tono memang mempunyai sepeda yang diwariskan Kakeknya untuknya. Kata Tono, sepeda itu dulunya digunakan Kakeknya untuk perang, Kakek Tono memang seorang pejuang veteran. Walaupun sepeda itu sudah tua, tetapi Tono merawatnya dengan baik dan menyayanginya.
           
Tanpa terasa kami sudah di depan pintu kelas. Aku dan Tono langsung masuk kelas dan menaruh tas kami di bangku. “Tettt...tettt...tettt...” suara bel masuk pun terdengar, semua murid langsung duduk dengan tenang dan Bu Nita, guru kami masuk ke dalam kelas, pelajaran dimulai.
---
            “Tettt...tettt...tettt....” Suara bel pulang pun terdengar. Setelah berdo’a, aku dan Tono bergegas untuk pulang. “Don, mau ku antar pulang?” tawar Tono. “Oke, ayo Ton.” Jawabku. Aku memang selalu diantar pulang olehnya. Rumah kami memang searah, tapi rumah Tono lebih jauh lagi dari rumahku.
            Pagi harinya, seperti biasa aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Pagi itu terasa aneh karena tidak terdengar suara bel sepeda seperti biasanya.  Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju ke arah kelasku. Di sana aku tidak melihat Tono, padahal aku fikir dia sudah datang lebih dulu, ternyata dia belum datang.
            “Tettt...tettt...tettt....” Suara bel masuk berbunyi dan aku makin gelisah karena Tono tak kunjung masuk ke kelas. Bu nita pun sudah datang dan mengucapkan salam, pertanda pelajaran sudah siap dimulai. Tiba-tiba Bu Nita menghampiriku dan bertanya, “Tono kemana Don?” Karena aku tidak tahu, aku pun hanya menggelengkan kepalaku. Terdengar helaan nafas panjang dari Bu Nita.
            Setelah dua jam pelajaran, muncullah seorang anak laki-laki dengan keringat yang bercucuran dari tubuhnya. “Maaf bu, apa saya boleh masuk?” kata lelaki penuh keringat itu yang ternyata adalah Tono. Semua murid yang berada di kelas terkejut. “Anak terpandai di kelas ini mengapa bisa terlambat?” Aku yakin teman satu kelas membatin seperti itu. “Tono, apa yang terjadi?” kata Bu Nita dengan sedikit cemas. “Mengapa kamu bisa terlambat?” tanya Bu Nita lagi. “Maafkan saya bu, sepeda saya rusak dan tidak bisa digunakan.” “Sementara saya belum mempunyai uang untuk memperbaikinya,” ujar Tono. Jadi Tono terlambat hanya karena sepedanya rusak, apa lagi jarak rumahnya dengan sekolah kan jauh. Aku menjadi sedih mendengar cerita Tono. Dia berjalan puluhan kilometer untuk sampai ke sekolah.
            Dari cerita Tono, aku mendapatkan ide. “Teman-teman, ayo kita mengumpulkan uang seikhlasnya untuk memperbaiki sepeda Tono,” kataku penuh semangat. Tanpa pikir panjang, teman-temanpun menyetujui usulanku.
            Keesokan harinya, aku mendengar kembali suara bel sepeda dari arah belakangku. “Kring...kring...kring...” “Hai Don,” sapa Tono lantang sambil menunggangi sepedanya. “Terima Kasih ya Don, berkat bantuanmu sepedaku bisa diperbaiki,” ujar Tono sambil menepuk pundakku. “Sama-sama Ton, itu semua juga berkat bantuan teman-teman sekelas,” kataku. Kami pun berboncengan menuju sekolah.
            Sekarang tidak ada Tono yang terlambat lagi. Sepeda tuanya sudah diperbaiki dan tambah bagus. Semoga Tono dapat menjaga sepeda tuanya dengan baik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

 
Copyright © Mr.Elly Oye