RSS

Jumat, 08 September 2017

Jogjaku, Jogjamu, Jogja kita Nasibmu Kini

Beberapa hari di awal bulan September Jogja dilanda cuaca ekstrim. Cuaca tidak menentu dihadapi orang-orang yang tinggal di Jogja selama beberapa minggu. Pagi hari cuaca bisa saja cerah dengan langit bersih tanpa awan sedikitpun. Akan tetapi, tiba-tiba langit akan menghitam dan tiba-tiba akan turun hujan deras. Tidak tanggung-tanggung, hujan deras yang biasanya turun hanya dalam waktu beberapa menit sampai satu jam, turun dengan durasi waktu yang lama sampai berjam-jam.
Tidak ada yang salah dengan turunya hujan dan cuaca ektstrim di Jogja sebenarnya. Hal ini menjadi luar biasa karena beberapa kawasan di Jogja akan mengalami dampak dari cuaca ekstrim terutama hujan deras ini. Bisa kita lihat di beberapa ruas jalan di Jogja, setelah hujan reda pasti akan banyak genangan air. Genangan air tersebut disebabkan air hujan tidak bisa masuk ke saluran air (gorong-gorong) dengan baik. Hal tersebut karena debit air hujan yang banyak sehingga tidak sesuai dengan daya tampung saluran air. Penyebab lain karena banyak gorong-gorong yang tidak berfungsi secara maksimal.
Pemandangan yang cukup parah akan kita hadapi di beberapa kawasan. Genangan air akibat hujan , tingginya bisa mencapai lutut orang dewasa. Genangan air yang cukup tinggi ini menyebabkan jalan tersebut menjadi tidak bisa dilalui secara normal. Mobil dan motor harus mencari sisi badan jalan dengan genangan air yang tidak terlalu tinggi agar bisa melewati jalan tersebut. Otomatis, mobil ataupun motor harus berjalan pelan dan bergantian agar bisa selamat melewati genangan tadi tanpa harus terjatuh atau mengalami mogok. Dampak besarnya adalah terjadi kemacetan panjang pada kawasan sekitar jalan yang digenangi air hujan tadi.
Kemacetan panjang wajib terjadi pada kawasan yang selalu menyisakan genangan air setelah hujan lebat melanda Jogja. Kemacetan juga disebabkan banyaknya mobil yang akan keluar dan memenuhi jalanan ketika hujan melanda Jogja. Penduduk Jogja yang tergolong dalam ekonomi menengah ke atas akan memakai mobil mereka ketika hujan turun. Akibatnya ruas jalan tidak mampu menampung jumlah mobil dan motor yang turun ke jalan. Kemacetan panjang tidak dapat dihindari lagi hampir di semua jalan di Jogja. Kemacetan ini menyulitkan mobilitas orang-orang karena waktu tempuh untuk menuju dan berpindah ke suatu tempat menjadi lebih lama dari waktu normal.
Akar masalah dari semua masalah di atas adalah berkurangnya daerah resapan air di kota Jogja. Bisa kita lihat sekarang ini sudah sulit dicari area terbuka yang bisa digunakan sebagai daerah resapan air. Hampir semua kawasan di Jogja penuh dengan bangunan modern baik perumahan, apartemen, mall ataupun hotel yang berdiri kokoh menjulang tinggi. Sekalipun bangunan-bangunan tersebut dibangun dengan perencanaan dan dilengkapi saluran air di tepi jalan tetap saja tidak mampu menanmpung debit air hujan yang sangat banyak akibat cuaca ekstrim.
Jogja kini terlihat tidak seramah dulu. Banjir yang dulu hanya milik kota metropolitan (Jakarta) kini seolah bergeser ke Jogja yang terkenal nyaman. Suhu panas yang dulu milik kota megapolitan dan kota-kota yang dekat dengan pelabuhan kini bisa ditemui setiap hari di Jogja ketika matahari merajai langit siang Jogja. Jogja yang dulu identik dengan bangunan khas Jawa yang memiliki halaman besar dengan tanah sebagai resapan air yang cukup luas dan pohon-pohon yang rimbun , kini sudah menjadi kota ratusan hotel, puluhan mall, perumahan, dan apartemen. Daerah resapan air pun sudah tidak ada yang memikirkan lagi. Banjir dan udara panas sudah menjadi santapan sehari-hari. Oh Jogjaku, Jogjamu, Joga kita, nasibmu kini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

 
Copyright © Mr.Elly Oye